Setelah Bencana, Rakyat dan Kehidupannya pun Musnah, Tak Lama Lagi Dilupakan, Para Petinggi Pun Kembali ke Mode Awal: Pesta, Garong, dan Pesta

Oleh: Syahrul E. Dasopang, Penulis Buku Mengapa Gerakan Islam Gagal?.

Hanya tersedia beberapa pekan ini untuk mengajarkan rakyat bahwa penderitaan mereka yang datang tiba-tiba dengan bahasa banjir dan longsor lebih disebabkan oleh elit-elit bisnis dan politik yang gila dan gila. Hanya tersedia beberapa pekan ini untuk menekan psikologis para pejabat yang terpaksa harus menyisihkan pikirannya yang selama ini diarahkan untuk bersolek dan manggung dengan bersenang-senang beralih menjadi sibuk mengecek berapa ratus ribu hektare aset mereka rusak, berapa mesin-mesin mereka kerendam banjir, berapa yang tersedia kas stanby untuk biayai pengerahan tenaga lapangan SAR, dan paling-paling dengan tipis-tipis ikutan prihatin tentang berapa jumlah nyawa dan rumah rakyat yang hanyut ditelan banjir.

Yang bikin mereka tidak nyaman adalah diri mereka sendiri, bahwa nggak enakan tidak nongol di TV atau di berita online saat semua mata orang yang waras end normal mengikuti terus prahara dan tragedi 2025 ini: banjir besar dan tanah longsor di Sumatera. Padahal merekalah sebenarnya pembuat pra kondisi mulusnya kejadian banjir yang menyedihkan ini.

Sekarang mereka tidak tahan isu ini terus saja menyindir dan menyudutkan mereka. Mereka mau, waktu secepatnya berlari sehingga orang-orang pun melupakan kejadian kelam ini. Persyetan dengan rakyat yang setelah bencana ini akan menghadapi hari-hari yang jauh lebih pahit dan menyiksa. Rakyat yang kehilangan sumberdaya kehidupannya akan berjibaku untuk bertahan hidup, mencari sumber kehidupan baru, alat-alat produksi baru yang tidak gampang diperoleh. Kemiskinan dan kehinaan akibat tidak punya lagi rumah, sanak saudara, uang, sawah, bengkel, atau apapun yang mendukung hidup untuk bertahan, sudah menanti dengan dingin dan bengis di depan sana.

Adapun si pembuat gundul hutan karena tambang emas mereka, sawit mereka, bubur kertas mereka, senyum-senyum tipis di kantor-kantor sejuk dan mentereng di Singapura dan Jakarta. Mereka tak peduli berapa nyawa melayang, berapa anak-anak yang kehilangan orang tua, berapa keluarga yang jatuh miskin, dan berapa yang trauma sepanjang hidup.

Mereka tahu bahwa mereka tak akan tersentuh oleh hukum, karena operator hukum kebanyakan budak-budak belian mereka. Sampai hari ini, tak ada satu pun dari para pemilik perusahaan di sekujur area episentrum banjir bandang itu dengan jantan meminta maaf ke publik. Karena sebenarnya mereka hanyalah makhluk yang pengecut, licik tapi tamaknya melebihi babi dan ular piton.

Inilah watak dari kapitalisme yang melahirkan satu kelas secuil bercokol di puncak hirarki politik, tapi secara rutin dan periodik memangsa rakyat sebagai tumbal persembahan atas operasi kapital mereka yang terus dan terus diakumulasikan demi menjamin kelanggengan kuasa dan nikmat kemakmuran yang mereka pertahankan hingga kiamat kurang tiga hari lagi.

Demokrasi konvensional dan tradisional yang diterapkan sebagai sirkulasi kekuasaan pemerintahan hanya akan melanggengkan saja realita kapitalisme yang dingin dan kejam ini, kecuali suatu revolusi dan pemberontakan rakyat yang sudah jengah dan lelah ditumbalkan dari era ke era.

Jadi inilah waktunya dalam beberapa hari ke depan ini, menyerang dan menyudutkan moral kaum setengah kera yang keamanan hidupnya dari memutar dan berkebun kapital, yang acap diperolehnya dari manipulasi dan eksploitasi hukum dan politik.

Berita Terkait

KUHP Baru, Legalisasi Zina dan Kriminalisasi Nikah Syar’i

Oleh : Ahmad Khozinudin, S.H.Advokat. Pemberlakuan KUHP baru per 2 Januari 2026, diklaim oleh Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra sebagai tanda berakhirnya… Baca selengkapnya ->

Ekonomisasi Korupsi

Oleh: Yudhie Haryono, CEO Nusantara Centre. KPK menangkap koruptor rata-rata satu pelaku setiap minggu dan kita membaca berita korupsi setiap hari. Ujungnya, KKN kini jadi tradisi bahkan agama. Melawan KKN… Baca selengkapnya ->

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

KUHP Baru, Legalisasi Zina dan Kriminalisasi Nikah Syar’i

  • By Suparman
  • Januari 9, 2026
  • 0
  • 155 views
KUHP Baru, Legalisasi Zina dan Kriminalisasi Nikah Syar’i

Ekonomisasi Korupsi

  • By Suparman
  • Januari 5, 2026
  • 0
  • 217 views
Ekonomisasi Korupsi

KUHAP Baru: Legalitas Represi Berkedok Reformasi Hukum

  • By Suparman
  • Januari 5, 2026
  • 0
  • 260 views
KUHAP Baru: Legalitas Represi Berkedok Reformasi Hukum

Pilkada Tidak Langsung: Ikhtiar Pemulihan Institusi dan Disiplin Publik

  • By Suparman
  • Januari 2, 2026
  • 0
  • 203 views
Pilkada Tidak Langsung: Ikhtiar Pemulihan Institusi dan Disiplin Publik

Naif, Perpolri No. 10 Tahun 2025: Kapolri Mengajarkan Pelanggaran Hukum dan Membangkang Konstitusi

  • By Suparman
  • Desember 28, 2025
  • 0
  • 245 views
Naif, Perpolri No. 10 Tahun 2025: Kapolri Mengajarkan Pelanggaran Hukum dan Membangkang Konstitusi

Banjir Besar di Aceh Tamiang: Menelisik yang Ditutupi

  • By Suparman
  • Desember 27, 2025
  • 0
  • 162 views
Banjir Besar di Aceh Tamiang: Menelisik yang Ditutupi